Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Filsafat. Show all posts

Wednesday, 15 April 2015

Tanda Tangan Anda Ternyata Menyimpan Sifat Karakter Anda



Karakter seseorang ternyata bisa dilihat dari bentuk tanda tangannya, Tidak percaya ?, silahkan baca rahasia tandatangan di bawah ini :

1. Satu Garis Di Bawah Tanda Tangan
Mempunyai keyakinan yang tinggi dan personaliti yang baik. Namun, bersifat kikir mereka juga percaya kepada kebahagiaan dalam kehidupan manusia.

2. Dua Titik Di Bawah Tanda Tangan
Mereka boleh dikatakan berjiwa romantis. Mudah ganti pasangan seperti menukar baju. Memilih orang yang memiliki kecantikan dan mereka sendiri berusaha untuk kelihatan menarik dan mereka ini juga mudah menarik perhatian orang lain.

3. Satu Titik Di Bawah Tanda Tangan
Lebih cenderung kepada seni klasik serta perkara yang mudah dan tenang. Jika orang lain yang telah hilang kepercayaan kepada anda, anda tidak akan sesekali kembali kepada mereka dan ini menunjukkan mereka seorang yang tetap pendirian.

4. Tiada Garis atau Titik Di Bawah Tanda Tangan
Mereka ini selalu senang hidup dalam dunia sendiri dan mereka juga jarang mau mendengar pendapat orang lain.Mereka ini boleh di kategorikan sebagai pencinta alam tetapi mereka juga mempunyai sifat agak kikir.

5. Tiada Persamaan Antara Nama dan Tanda Tangan
Maksudnya tanda tangan mereka tidak menonjolkan nama mereka. Golongan ini mencoba untuk kelihatan bergaya, suka menyembunyikan sesuatu. Mereka jarang untuk berterus terang tetapi mereka merupakan pendengar yang baik dan senantiasa memberi perhatian tentang apa yang orang lain sedang katakan.

6. Ada Persamaan Antara Nama dan Tanda Tangan
Mereka ini berkeinginan untuk menjadi bijak tetapi mereka tidak pernah berpikir. Mereka ini tidak konsisten, dan selalu menukar ide atau pandangan sendiri seperti angin. Golongan ini tidak pernah berpikir baik buruk tentang sesuatu perkara. Biasanya, orang lain bisa mengambil hati mereka dengan hanya memuji.

7. Tanda Tangan dengan Huruf Yang Tidak Bersambung
Mereka ini sangat baik terhadap orang lain. Mempunyai hati yang baik, tidak mementingkan diri dan siap berkorban untuk kepentingan dan kebahagiaan orang yang di sayangi. Tapi apabila terlalu banyak perkara yang mereka pikirkan, ini menyebabkan mereka akan cepat tersinggung.

8. Tanda Tangan yang Lengkap Seperti Nama
Mereka sangat baik hati dan bisa menyesuaikan diri dengan suasana apa saja dan siapa saja yang mereka temui. Golongan ini juga sangat teguh pendirian serta pendapat dan memiliki keinginan yang sangat kuat dalam mendapatkan sesuatu.






Tuesday, 18 February 2014

Kronologi New Tastement

Kronologi Perjanjian Baru

 












Kronologi berarti: ajaran (logos) tentang waktu (chronos). Maksudnya ialah urutan peristiwa-peristiwa dalam waktu. Maka kronologi Perjanjian Baru artinya ialah: urutan peristiwa-peristiwa (dan karangan) yang tercantum dalam Perjanjian Baru. Masa itu merangkum jaman sejak lahirNya Yesus sampai dengan kematian Rasul terakhir, dengan lain kata jaman kehidupan Yesus serta jaman rasuli.
Sehubungan dengan kronologi Perjanjian Baru ada banyak keraguan, kekaburan dan ketidak pastian. Karena itupun para ahli jauh dari sepakat dan sependapat. Sebaliknya ada selisih pendapat yang tidak kecil malah berhubung dengan peristiwa terpenting. Maka dari itu daftar yang berikut inipun tidak boleh dianggap mutlak, melainkan disajikan hanya sebagai satu kemungkinan diantara beberapa. Seringkali perbedaan hanya mengenai satu dua atau beberapa tahun saja oleh karena jaman Perjanjian Baru memang agak pendek sedikit.

Kronologi kehidupan Yesus

Tak mungkin juga diberikan suatu kronologi dan urutan peristiwa-peristiwa dalam waktu yang lengkap dan pasti sehubungan dengan kehidupan Yesus. Sumber yang tersedia, yaitu terutama keempat Injil tidak mengizinkan suatu daftar lengkap dan tepat disusun.
Yesus lahir sekitar tahun 7/6 sebelum Masehi. Ini aneh sedikit, mengingat bahwa tarikh Masehi (tahun 0) mulai dengan kelahiran Yesus. Tetapi ketika dalam abad ke IV Mas. Dionysius Sikecil menetapkan tarikh itu, ia keliru sedikit. Ia memulai tarikh Masehi itu beberapa tahun terlambat. Injil Lukas (Luk 2:1-2) menempatkan kelahiran Yesus dimasa pemerintahan Kaisar Agustus dan menghubungkannya dengan suatu cacah jiwa yang diadakan wali negeri Romawi Quirinus. Tetapi maksud Lukas kurang jelas juga. Sulpicius Quirinus adalah wali negeri di Syriah (termasuk juga Palestina) sekitar tahun 10 seb. Mas. dan sekali lagi sekitar tahun 6 Mas. Mateus (Mat 2:1) menghubungkan kelahiran Yesus dengan pemerintahan Herodes Agung. Herodes meninggal tahun 4 seb. Mas. Tanggal ini adalah pasti sama sekali, dan jika berita Mateus itu adalah benar, maka Yesus lahir sebelum tahun 4 Mas. Pulangnya dari Mesir dipertalikan oleh Mateus (Mat 2:22) dengan Tetrarkha Yudea dan Samaria Arkhelaos, yang sebagai pengganti ayahnya mulai memerintah dalam tahun 4 seb. Mas. juga. Tentang hari kelahiran Yesus tidak diketahui apa-apa.
Tampilnya Yohanes Baptis dan Yesus didepan umum ditempatkan oleh Lukas (Luk 3:1) pada jaman pemerintahan kaisar Teberius, waktu Pontius Pilatus adalah walinegeri di Yuda. Yesuspun wafat pula dijaman pemerintahan Pontius Pilatus. Pontius Pilatus menjadi walinegeri Yuda dari tahun 26 hingga 36 Mas. Maka itu kehidupan Yesus didepan umum berlangsung antara tahun 26 dan tahun 36. Tidak ada kepastian tentang tahun manakah dimaksudkan dengan "tahun 15 Kaisar Tiberius". Sebab ada dua macam perhitungan, dan tidak jelas perhitungan manakah dipakai Lukas. Maka menurut perhitungan yang satu tahun 15 ialah tahun 28/29 Mas.; menurut perhitungan yang lain tahun 27/28. Lukas (Luk 3:23) memberitahukan pula, bahwa Yesus berumur kira-kira 30 tahun waktu tampil. Jika diterima, bahwa tahun kelahiran Yesus ialah tahun 7 seb. Mas. dan tahun 15 Tiberius adalah 27/28 maka Yesus berumur 34 tahun waktu tampil didepan umum.
Wafatnya Yesus pasti jatuh pada hari Jumaat. Sebab Yohanes (Yoh 19:42) dan para sinoptisi (Mat 27:62; Mar 15:42; Luk 23:54) memberitahukan, bahwa itu terjadi pada "hari persiapan", artinya hari yang mendahului hari Sabbat. Pada hari itu semua disiapkan untuk hari istirahat itu. Para sinoptisi menyarankan, bahwa hari itu ialah hari Raya Paskah, sebab malam sebelumnya Yesus makan perjamuan Paskah (Mat 26:2, 17-18, 19; Mar 14:1, 12, 14, 16; Luk 22:1, 7, 8, 11, 13, 15), sedangkan Yohanes menyarankan, bahwa hari itu ialah hari sebelum Paskah (Yoh 18:28, 39; 19:14). sehingga perayaan itu jatuhnya pada hari Sabat berikutnya (Yoh 19:31). Mungkin dimasa itu ada dua penanggalan diantara orang Yahudi. Yang satu diikuti Yesus dan para sinoptisi, yang lain dituruti para imam Yahudi dan Yohanes. Tetapi mungkin juga, bahwa "jamuan paskah", yang dibicarakan para sinoptisi bukanlah jamuan paskah yang sebenarnya, tetapi semacam pengganti. Ada ahli yang berpendapat, bahwa Yesus makan jamuan malam terakhir pada hari Selasa; malam itu juga Ia ditangkap, selama hari Rabu tinggal dipenjara dan pada hari Kamis dihadapkan kepengadilan.
Jika keterangan Yohanes diterima sebagai tepat, maka tahun dan tanggal wafatnya Yesus dapat ditentukan sedikit. Sebab jatuhnya hari raya Paskah pada hari Sabat terjadi dalam tahun 30 dan 33 Mas. Tahun 33 rupanya sedikit terlambat. Kalau itu diterima, maka Yesus sudah berumur kira-kira 39 tahun dan Ia bekerja selama lima tahun. Yohanes memberitahukan, bahwa Yesus dua kali pergi ke Yerusyalem untuk merayakan Paskah (Yoh 2:13; 6:1). Waktu untuk ketiga kalinya pergi Yesus dibunuh (Yoh 13:1). Yohanes (Yoh 2:20) juga memberitahukan, bahwa Bait Allah sudah empatpuluh enam tahun diperbaiki. Perbaikan dan pengluasan ini dimulai oleh raja Herodes Agung dalam tahun 19/20 seb. Mas., sehingga 46 tahun sesudahnya ialah tahun 25/26 Mas. Kiranya ke 46 tahun (Yoh 2:20) itu tak perlu diambil persis melainkan hanya kira-kira saja sehingga keterangan itu dapat disesuaikan dengan keterangan Lukas tentang tahun 15 pemerintahan Tiberius. Yesus sudah bekerja sebentar sebelum pergi (untuk pertama kalinya) ke Yerusyalem.
Maka itu dengan agak pasti boleh disimpulkan bahwa Yesus wafat tanggal 7 April tahun 30 Mas. Ia bekerja di tengah rakyat dua tahun lebih (tahun 27/28-30). Tetapi kepastian mutlak tidak ada juga, sehingga beberapa ahli mempertahankan bahwa Yesus bekerja 3-5 tahun. Banyak bergantung pada pernilaian kebenaran historis yang tercantum dalam injil karangan Yohanes.

Sebuah Maha Karya Filosofis

Kota Allah: Sebuah Mahakarya Sastra Agustinus

Satu dari beberapa tulisan terkenal Agustinus adalah De Civitate Dei (The City of God) atau Kota Allah. Karyanya ini juga terkenal sebagai mahakarya di antara para jenius besar Bapa-bapa Gereja Latin (The Latin Fathers), sekaligus menjadi karya sastra yang paling terkenal dan paling banyak dibaca di antara karya-karya Agustinus lainnya di samping Pengakuan-pengakuan (The Confessions).[1] Bukan itu saja, karyanya ini telah memberikan pengertian dan inspirasi bagi banyak teolog, sejarawan dan orang Kristen tentang sejarah dan politik dalam perspektif Kristen selama berabad-abad.
Isi Kota Allah terbagi menjadi dua bagian besar. Bagian pertama (IX) adalah bagian yang menceritakan jatuhnya kota Roma sebagai suatu bencana (I-III) dan pemaparan konsep-konsep serta diskusi-diskusi tentang ilah-ilah orang kafir (IV-X). Bagian kedua (XI-XXIII) menjelaskan tentang asal-usul, perkembangan dan tujuan duniawi dan sorgawi kota-kota yang ada di dunia.
Agustinus menulis buku ini sebagai refleksi atas kejatuhan kota Roma pada tahun 410 M, yang sungguh-sungguh mengguncangkan dunia Mediterania.[2] Sebelum kejatuhan kota ini, bangsa-bangsa Barbar di bawah komando Alaric dan pasukan orang-orang Visigoth mulai menyerang daerah-daerah kekuasaan kerajaan Roma. Ketika kerajaan Roma menjadi lemah karena serangan-serangan ini, orang-orang Roma yang beragama kafir mulai mempersalahkan kekristenan sebagai penyebab malapetaka itu. Mereka percaya bahwa dewa-dewa mereka sedang mengutuk orang-orang Roma karena pengaruh kekristenan yang sangat kuat di kota itu. Agustinus memberikan sanggahan terhadap tuduhan itu dengan menuliskan Kota Allah.[3]
Dalam Kota Allah, Agustinus merefleksikan kejatuhan kota Roma yang kemudian menjadi bahan pemahamannya, mungkin lebih tepat penafsirannya, terhadap sejarah dunia secara universal. Penafsirannya dibuat dengan jalan menelusuri sejarah melalui dua pendekatan: pendekatan teologis dan filosofis. Jadi, tepatlah jika Kota Allah disebut sebagai mahakarya Agustinus, karena karyanya ini bukan saja merupakan karya teologi sejarah pertama, tetapi juga merupakan filsafat sejarah pertama yang sangat mengagumkan sekaligus merupakan filsafat politik yang telah berhasil mempengaruhi Eropa selama berabad-abad.[4]

Interpretasi Teologis Terhadap Sejarah

Setelah mengambil keputusan untuk menjadi orang Kristen, Agustinus menjadi orang yang sangat mencintai firman Allah. Dia percaya bahwa gereja seharusnya menjadi tempat di mana pesta Kitab Suci "sudah selalu tersedia."[5] Karena itu ketika memahami sejarah dan peristiwa- peristiwa yang ada di dalamnya, ia tidak pernah menggunakan pengertiannya sendiri, tetapi ia menggunakan dan kemudian mendasari tulisannya dengan perspektif Alkitabiah dan teologis yang kuat. Pemahaman yang demikian menghasilkan konsep-konsep sejarah dunia yang bermakna teologis. J. V. L. Casserley menekankan bahwa dalam karyanya ini, Agustinus mencoba menyediakan analisa Alkitabiah dan teologis tentang sejarah dunia.[6]
Dari hasil pemikiran tentang sejarah, didapati bahwa sejarah merupakan misteri Allah. Di satu sisi, Allah adalah Allah yang tidak terselami dan tidak terjangkau oleh pikiran dan pengetahuan manusia. Tidak terselami jalan dan pikiran-Nya. Ia tidak di dalam waktu melainkan pencipta waktu.[7] Di sisi yang lain, manusia memiliki keterbatasan untuk memahami secara keseluruhan ruang dan waktu yang diciptakan Allah ini, termasuk peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya. Hal ini menyebabkan manusia tidak mampu memahami sejarah dengan sejelas- jelasnya. Tidak ada seorang pun yang dapat menyingkapkan sejarah, karena sejarah dunia merupakan suatu misteri yang mengherankan. Allah hanya menyingkapkan "sebagian" dari sejarah ini di dalam Alkitab, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat menelusuri sejarah tanpa bimbingan ilahi dari kitab suci dan tanpa Allah yang bekerja di dalam sejarah.[8]
Sebagian dari sejarah ini dijelaskannya dalam bagian akhir Kota Allah (XI-XXIII). Dalam bagian ini Agustinus mencoba menelusuri sejarah dunia melalui sejarah suci dalam Alkitab. Pada mulanya Allah menciptakan dunia ini. Ia menciptakan ruang dan waktu sebagai elemen- elemen dasar dari sejarah. Penciptaan sejarah yang demikian berimplikasi bahwa waktu memiliki awal atau permulaan. Prinsip ini dinyatakan sebagai argumentasi terhadap pandangan yang keliru, yang muncul pada masa itu, bahwa waktu tidak memiliki permulaan (XI:4). Pemahaman waktu harus selalu ada pada kerangka "pada awalnya." Hal ini berarti bahwa dunia tidak berada di dalam waktu melainkan secara simultan berada bersama-sama dengan waktu, sesudahnya berarti masa lalu dan sebelumnya berarti masa depan (XI:6).
Pengaruh dosa di dalam ruang dan waktu sangat fatal. Dosa telah memisahkan dua kota, kota manusia dan kota Allah.[9] Kejatuhan malaikat menjadi awal atau permulaan terbaginya kedua kota ini. Tragisnya, pola kejatuhan ini terulang lagi dalam kejatuhan manusia pertama. Kedua kejatuhan ini adalah kejatuhan bukan karena keadaan alamiah mereka tetapi karena keinginan (XIII:3). Agustinus menjelaskan bahwa kota manusia telah dibangun oleh Kain pada awal sejarah ras manusia dan ini berkembang sampai ke masa kerajaan Romawi. Sementara itu, pada sisi yang lain, Habel telah membangun kota Allah, yang kemudian diteruskan kepada Abraham dan keturunannya. Ditekankan juga bahwa orang-orang yang hidup di kota Allah telah dipredestinasikan oleh anugerah untuk berada di tempat itu (XV-XVIII).
Kota manusia dan kota Allah memiliki bentuk dan karakteristiknya sendiri-sendiri. Bentuk dan karakter ini berakar pada kondisi manusia sejak awalnya, manusia yang berdosa dan manusia yang walaupun berdosa tetapi telah memperoleh anugerah pengampunan dari Allah. Kondisi inilah yang telah membedakan keduanya. Kota manusia bercirikan kehidupan yang sangat mengasihi dan memuliakan diri sendiri, sedangkan kota Allah, di sisi lain, bercirikan hidup yang mengasihi dan memuliakan Allah.[10] Kedua perbedaan ini terus ada dan berkembang dalam lintasan sejarah, dan semua perbedaan yang berkembang ini akan menjadi sangat jelas pada akhir zaman.
Pada Abad Pertengahan muncul masalah mengenai hubungan antara kota Allah dan gereja; apakah persamaan antara kota Allah dan gereja, apakah keduanya mengacu kepada Kerajaan Roma dan Gereja Roma Katolik atau lembaga-lembaga dunia? Menurut tradisi kelompok Agustinian, yang menggunakan metode eksegesis yang khas Abad Pertengahan terhadap Kitab Wahyu, gereja secara eksplisit identik dengan kota Allah.[11] Pendapat ini agak bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh J. W. Montgomery bahwa kedua kota tidak pernah identik dengan lembaga-lembaga dunia.[12] Jika pendapat pertama disetujui, ini berarti bahwa lembaga- lembaga ini akan membatasi cakupan kota Allah. E. A. Cairns berkata bahwa cakupan kota Allah seharusnya lebih luas dari pada hanya sebatas lembaga-lembaga.[13] Jika dipikirkan secara lebih dalam, seharusnya ada cara yang tepat untuk mengatasi polemik ini. Pada dasarnya, gereja harus didasari atas kasih, sehingga kasih dapat diaktualisasikan. Jika kasih ada di dalam gereja, argumen-argumen ini tidak sah, karena dengan kasih gereja akan dikenal sebagai kota Allah dan meskipun gereja adalah institusi dunia, dengan kasih gereja akan berarti lain. P. Tillich memberikan jalan keluar dengan menempatkan Kristus di tengah masalah dengan mengatakan bahwa gereja dapat menjadi kota Allah jika Kristus, dengan kasih-Nya, memerintah gereja.[14]
Karena itu dapatlah dikatakan bahwa pendekatan teologis Agustinus terhadap sejarah dimulai dari atas;[15] Allah telah menciptakan dan memulai sejarah dunia ini. Dalam perjalanannya, sejarah dunia telah terbagi menjadi dua, sejarah sekuler dan sejarah sakral. Walaupun demikian, Allah di dalam Kristus tetap bekerja dan berkuasa di dalam kedua sejarah itu. Ia berkuasa atas kota surgawi dan datang ke kota duniawi untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Karena itu, orang berdosa dapat masuk dan hidup di dalam kota Allah. Jadi, kedua sejarah itu berada dalam kekuasaan ilahi. Gereja, sebagai alat di tangan Tuhan untuk membawa manusia menjadi warga kota Allah, adalah "bayangan" dari kota surgawi di dalam sejarah dunia, selama ia memanifestasikan kasih Allah.[16]

Pengantar Tafsir dan Hermeneutik

Ilmu tafsir atau hermeneutika (Yunani: hermeneuein = menafsirkan, menterjemahkan) ialah ilmu yang menetapkan, prinsip, aturan dan patokan yang menolong untuk mengerti atau mengartikan salah satu karya atau dokumen dari jaman sekarang atau terutama dari jaman dahulu.
Dengan pertolongan prinsip, aturan dan patokan yang ditetapkan itu para ahli mengartikan suatu karya (seni) dan begitu menghasilkan "tafsiran". Pengetrapan ilmu tafsir itu disebut "eksegese" (Yunani: eks-egesthai=mengeluarkan, menerangkan). Meskipun ilmu tafsir dapat dan harus diterapkan pula untuk mengartikan suatu karya profan juga, namun ilmu itu terutama diperkembangkan sehubungan dengan Alkitab. Dan hanya ilmu tafsir alkitabiah itu yang menjadi pokok uraian ini. Adapun ilmu tafsir alkitabiah itu ialah: ilmu (prinsip, aturan , patokan) yang menolong untuk mengerti apa yang sesungguhnya dikatakan dan dimaksudkan oleh Kitab Suci.

Perlunya ilmu tafsir alkitabiah

Sudah barang tentu Kitab Suci membutuhkan tafsiran. Tidak dapat dikata, bahwa Alkitab begitu saja jelas dan terang untuk para pendengar dan para pembaca. Memang Kitab Suci adalah firman Allah (bdk. Inspirasi), tetapi firman Allah yang berupa perkataan manusia. Dari sebab itu Alkitab ikut mengalami nasib perkataan manusia pula. Kitab Suci ditulis sekian ratus, bahkan sekian ribu (bagian-bagian tertua) tahun yang lalu. Ia ditulis dalam bahasa (Ibrani/Aram, Yunani) yang bukan bahasa kita dan bahasa-bahasa Alkitab bahkan sudah menjadi bahasa mati, sehingga tidak lagi dipakai untuk hidup sehari-hari. Karena itu Kitab Suci perlu "diterjemahkan" kedalam bahasa yang masih hidup. Tetapi setiap "terjemahan" sekaligus suatu "tafsiran". Sebab sipenterjemah hanya (dapat) menterjemahkan apa yang dimengertinya dan hanya sejauh dimengertinya. Kecuali itu para pengarang (manusia) Kitab Suci menulis karangan-karangannya berdasarkan alam pikiran, kebudayaan dan keadaan historis tertentu yang bukan alam pikiran, kebudayaan dan keadaan para pembaca dan pendengar Alkitab dijaman kemudian dan dimasa sekarang. Jadi Alkitab membutuhkan tafsiran. Maksud sebenarnya dari Alkitab harus digali, lalu diterjemahkan kedalam alam pikiran lain. Dan baiklah kalau ada dan disusun sejumlah prinsip dan patokan yang menjadi pegangan dalam menafsirkan Alkitab, supaya salah paham dan kekeliruan sedapat mungkin dicegah. Dan justru itulah maksud dan tujuan ilmu tafsir atau hermeneutika.